Konsorsium XL Indosat Alita Prima Kalah Grup Sinar Mas Menang Palapa Ring Paket Timur

Konsorsium PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST), PT Smart Telecom, dan PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo) memenangi tender proyek pembangunan jaringan tulang punggung serat optik Palapa Ring Paket Timur. Estimasi nilai proyek tersebut mencapai Rp 14 triliun.

Inti Bangun Sejahtera merupakan salah satu perusahaan yang terafiliasi dengan Grup Sinar Mas. Sedangkan Smart Telecom merupakan anak usaha PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), yang juga milik Grup Sinar Mas.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Ismail Cawidu mengatakan, proyek Palapa Ring Paket Timur dimenangi oleh konsorsium Moratelindo-IBS-Smart Telecom.

“Dari hasil eveluasi dokumen penawaran, konsorsium ini dinyatakan lulus administrasi, dengan nilai 85,98 dan aspek finansial senilai Rp 14,06 triliun,” kata dia.

Dengan dinyatakannya konsorsium Moratelindo-IBS-Smart Telecom sebagai pemegang, maka konsorsium PT XL Axiata Tbk (EXCL)-PT Indosat Tbk (ISAT), dan PT Alita Praya Prima dinyatakan gugur dalam proses tender.

Sementara PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Ooredoo dinilai kembali membuang peluang menyaingi dominasi Telkom Grup di pengembangan infrastruktur backbone untuk layanan broadband dengan gagal memenangkan tender Palapa Ring Paket Timur belum lama ini.

“Kegagalan di tender Palapa Ring Paket Timur itu kalau di permainan sepak bola seperti membuang peluang tendangan penalti. Proyek Palapa Ring itu peluang bagi Indosat dan anggota konsorsiumnya untuk memiliki backbone di Kawasan Timur Indonesia, khususnya Papua. Sayang, sekali mereka kalah karena faktor tak lengkap administrasi,” sesal Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala.

Menurut Kamilov, jika dilihat dari kelayakan proyek, pemerintah sudah membuat proposal lumayan atraktif bagi calon investor.

“Perhitungan skema availability payment dalam kurun waktu 15 tahun dengan valuasi proyek ini bisa mencapai Rp 14 triliun. Soal pendanaan kalau melihat paket barat dan tengah, itu dibantu mencari pinjaman. Jadi, kalau saya lihat ini yang kurang komitmen investasi dari pemegang saham di konsorsium itu untuk bertarung membangun jaringan di Indonesia bagian timur,” ulasnya.

Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB M Ridwan Effendi menyayangkan konsorsium Indosat-Alita-XL Axiata tak bertarung hingga titik darah akhir dengan tak lengkapnya syarat administrasi, sehingga didiskualifikasi oleh panitia lelang.

“Harusnya mereka memperbaiki kegagalan tender desa berdering beberapa tahun lalu. Buktikan dong komitmen selama ini yang ingin ikut memotong kesenjangan informasi di NKRI,” sindirnya

Secara terpisah, Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys mengatakan, dalam konsorsium tersebut, perseroan akan mengusai minoritas saham. Namun, pihaknya belum dapat merinci terkait pendanaan proyek ke depan. “Yang akan jadi mayoritas itu Inti Bangun Sejahtera,” terang dia.

Sebagai informasi, Paket Timur Palapa Ring akan menjangkau wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, dan Papua dengan total panjang kabel serat optik sekitar 6.300 kilometer (km). Paket timur ini diperkirakan membutuhkan belanja modal Rp 5 triliun. Namun, dengan asumsi perhitungan skema availability payment dalam kurun waktu 15 tahun, valuasi proyek ini bisa mencapai Rp 14 triliun.

Masifnya konsumsi layanan data, seperti 3G dan 4G oleh pelanggan operator telekomunikasi membuat Inti Bangun juga turut melakukan diversifikasi layanan jasanya. Baru-baru ini, Chief Operation Officer Inti Bangun Sejahtera Vindy Sutanto mengatakan, sejak tahun lalu, perseroan mulai masuk ke dalam bisnis kabel serat optik, yang terintegrasi dengan jasa sewa menara.

Hingga saat ini, Inti Bangun telah membangun 4.278 kilometer (km) jaringan serat optik. Selain menara konvensional, perseroan juga memiliki 600 microcell, yang jumlahnya ditargetkan dua kali lipat pada tahun ini.

“Kebutuhan bandwidth operator telekomunikasi bakal semakin besar karena implementasi 4G, dan ini juga memicu pertumbuhan permintaan jasa microcell dan kabel optik,” terang Vindy.

Tahun ini, Inti Bangun menyiapkan capex senilai Rp 875 miliar tahun ini. Anggaran tersebut akan digunakan untuk membangun 1.554 menara telekomunikasi, yang 90% dibangun secara organik, sedangkan 10% melalui akuisisi.

Hingga kuartal I-2016, perseroan telah menyerap 25% capex untuk membangun 343 menara. Perseroan pun akan melanjutkan ekspansi menara dengan mayoritas pembangunan di kota-kota besar Jawa, dan sebagian di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Sementara itu, Smartfren mengalokasikan capex sebesar US$ 100 juta tahun ini. Nilai tersebut terpangkas dari anggaran capex tahun lalu yang mencapai US$ 250-300 juta.

Direktur Keuangan Smartfren Telecom Antony Susilo mengatakan, capex tahun lalu lebih besar lantaran perseroan agresif membangun jaringan long term evolution (LTE). Sementara tahun ini, perseroan tetap membangun atau memperkuat 200 titik jaringan LTE, namun tidak lagi menambah jaringan code division multiple access (CDMA).

“Salah satu sumber pendanaan capex akan berasal dari sisa pinjaman dari China Development Bank Corporation (CDB) yang belum kami tarik,” jelas dia, belum lama ini.

Smartfren melalui anak usahanya Smart Telecom menandatangani perjanjian kredit senilai US$ 300 juta dengan CDB pada 30 Juni 2015. Pinjaman tersebut memiliki jangka waktu delapan tahun. Hingga saat ini perseroan telah menarik pinjaman CDB sebesar US$ 120 juta. Sesuai rencana, sisanya US$ 180 juta akan ditarik bertahap tahun ini sampai tahun depan.

Di sisi lain, ketua Umum Asosiasi Pengusaha Nasional Telekomunikasi (Apnatel) Triana Mulyatsa menjelaskan, dalam menggelar jaringan ke pelanggan tak hanya harus kuat di sisi akses, tetapi juga backbone dan transmisi.

“Kondisi geografis Indonesia di bagian timur memang penuh tantangan, dan itu menjadi ujian bagi komitmen operator untuk memenuhi lisensi nasional yang dimilikinya. Kalau ada operator yang bangun di Indonesia bagian timur, itu harusnya diapresiasi pemerintah,” tukasnya.

Dalam catatan, saat ini Telkom grup membentangkan backbone serat optik di bumi nusantara sepanjang 81.831 Km dari Sabang hingga Merauke.

XL Axiata memiliki serat optik tidak kurang dari 40.000 km, yang meliputi hampir seluruh wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sulawesi, dan Kalimantan.

Sedangkan Indosat untuk serat optik memiliki dan mengoperasikan berbagai sistem kabel laut antara lain Jakabare (Jakarta – Kalimantan – Batam – Singapore), SMW3 (South East Asia - Middle East - West Europe), JaSutera (Jawa – Sumatera), Jambi-Batam-Singapore, AAG (Asia – America Gateway), Javali (Jawa – Bali), Jakasusi (Jawa – Kalimantan – Sulawesi), Jakarta – Surabaya.

Indosat juga memiliki jaringan terestrial yang menghubungkan sistem komunikasi dari Surabaya ke Madura, backbone pulau Jawa, backbone pulau Sumatera, backbone Kalimantan (Banjarmasin – Balikpapan – Samarinda, Banjarmasin – Palangkaraya – Sampit) dan backbone Sulawesi (Makasar – Palu).(id)

Nama Counter : admin Palapa Ring Paket Timur  

Kembali

Rek.Bank

Bank Mandiri
139-00-1051208-9

Bank BNI
019-4127-774

Bank BCA
046-1073-408

Bank BRI
0077-01-009130-53-0

Bank Syariah Mandiri
1-777-038-456

Semua an. Dwi Sartika

Kontak Kami

0821-3834-7789
(WhatsApp / Telegram)
0281-640-860
(Telp.Kantor)

 

Email:
admin@voucher-pulsa.net
Google+

Alamat:

UD. MAKMUR MANDIRI
Jln. Pekih No.290 Sokanegara
Purwokerto JAWA TENGAH-53115

Copyright © 2009